Karena Bulan Tak Bisa Ngomong

Malam 1: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Malam itu, tepat hari ke-15 pada penanggalan Jawa, bulan tampak bulat sempurna dari sebuah balkon rumah bernomor tujuh belas. Di sana, tampak seorang wanita tengah melonggarkan dasi seorang lelaki di hadapannya. Pada jari manis di tangan kirinya tampak sebuah cincin melingkar. Cincin yang serupa dengan yang dikenakan sang lelaki sejak setahun yang lalu. Wanita itu tersenyum, tersipu saat kemudian sang lelaki mencium pipinya dengan lembut.

“Aku akan merindukanmu, Mas,” bisik sang wanita. Ia bersandar manja di dada sang lelaki. Merasakan tiap degup jantung yang berdenyut di sana. Degup jantung yang akan ia rindukan sejak esok hari. Sang lelaki hanya tersenyum dan membelai lembut kepala sang wanita, istri tercintanya. Ia sempat melirik ke dalam kamar di belakangnya. Sebuah passport dan tiket pesawat serta koper besar siap mengantarnya ke Negeri Sakura untuk tinggal di sana selama hampir 2 bulan.

Ini memang terlalu cepat untuk kembali pergi. Baru sekitar 3 hari yang lalu ia pulang. Tapi, sang istri seakan paham itu. Sebagai istri seorang diplomat, ia sudah siap menerima konsekuensinya. Ditinggalkan kapan saja dalam waktu yang lama dan didatangi untuk siap ditinggalkan kembali. Pernah satu waktu, sang suami mengajaknya serta. Tapi pekerjaannya sebagai editor di sebuah penerbit ternama di ibu kota tak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Apalagi, pekerjaan itu adalah impiannya sejak ia duduk di bangku SMA.

“Aku juga, Dek. Kata sang lelaki tanpa melepas pelukan sang wanita yang semakin erat. Malam itu, bulan menjadi saksi cinta keduanya. Saksi bahwa keduanya tampak saling mencintai, saling merindukan, dan membutuhkan.

 

Malam 2: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Malam itu, ia tampak bergelayut manja di balkon. Balkon yang sama saat suaminya berpamitan untuk pergi ke Negeri Sakura. Terkadang tersenyum, tersipu, bahkan tertawa di sana. Menikmati tiap suara dan gambar dari layar handphone 3G di tangan kirinya. Sudah pasti, lelaki di seberang sana adalah suaminya. Kadang-kadang, ia melirik ke arah kamarnya. Entah untuk sekedar melihat jam dinding di sana, atau pun untuk yang lainnya, hanya ia yang tahu. Malam itu, bulan kembali bersaksi, tidak hanya untuk yang tampak di balkon sana, tetapi juga yang tak tampak oleh tiap pasang mata yang lewat di bawahnya.

 

Malam 3: Balkon apartemen nomor sembilan, Negeri Sakura

Dari luar, lelaki itu tampak membereskan sejumlah map dan memasukkannya ke dalam sebuah tas berwarna hitam. Esok hari ia akan bertemu dengan segenap staf keduataan untuk mempererat hubungan internasional. Selain itu, ia juga harus menyerahkan sejumlah laporan yang diminta berkenaan dengan perkembangan terakhir teknologi yang telah dicapai di Ibu Kota untuk kemudian mengetahui langkah berikutnya yang perlu dilakukan.

Jika diperhartikan, dalam jangka waktu satu minggu ia telah menyelesaikan sejumlah laporan yang menjadi tanggung jawabnya. Bukan karena terburu-buru. Hanya saja kerinduannya pada sang istri di belahan bumi yang lain tidak mengijinkannya berlama-lama di negeri orang bermata sipit itu. Percakapan yang dilakukannya hampir tiap malam tidak mengurangi rasa rindu yang ada. Ia akan tersenyum jika mengingat percakapannya dengan sang istri semalam sebelum ia berangkat.

‘Mas, apa pendapatmu jika aku mengenakan kimono? Apa aku akan secantik gadis oriental di sana?’ tanya sang istri sembari membereskan baju ke dalam koper. Mendengar itu, ia pun tersenyum dan berbisik, “Kamu akan selalu cantik di hadapanku, mengenakan kimono atau tidak mengenakan baju sekalipun.” Sang istri pun tersipu dan mencubit pinggang sang suami. Dan mereka berpelukan erat, seakan enggan dipisahkan.

 

Malam 4: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Seperti biasa, sang istri di sana, di balkon yang sama. Bulan juga menemaninya, meski tak bulat sempurna. Kali ini ia tak ber-3G ria. Hanya sapaan antar telinga yang tak mengijinkan muka bertemu muka. Tak masalah karena memang tak ada yang beda, masih ia dan suaminya.

“Hei, apa yang kau lakukan seharian ini?” Tanya sang suami.

“Tak banyak, hanya melayani segelintir orang yang tak puas dengan suntinganku.” Paparnya malas, terdengar enggan berbicara.

“Apa kamu masih ingin memakai kimono? Aku ada dua pilihan.”

“Sebutkan,” jawab sang istri yang kini telah berbaring di ranjang.

Furisode1 atau Tomesode2?”

“Ah, entahlah. Bagaimana kalau Furisode saja.” Jawabnya malas.

“Baik, tapi itu berarti kau sudah lupa bahwa aku suamimu.”

“Oh, maaf, aku….

“Sepertinya kau lelah. Istirahatlah. Obrolan ini kita lanjutkan besok.”

Tuuuuuuuut. Dan telpon pun terputus.

Malam itu, bulan tahu, wanita lelah dan lelaki sedikit kecewa.

 

Malam 5: Balkon apartemen nomor sembilan, Negeri Sakura

Sang suami tampak berkemas dengan cepat untuk kepulangannya esok hari setelah menutup teleponnya. Tunggu aku pulang, sayang, batinnya. Diliriknya sebuah kimono di lipatan teratas sebelum ia menutup koper besarnya. Kimono yang dipesan khusus untuk istrinya. Dan yang pasti bukan kimono jenis Furisode, tapi Tomesode. Malam itu, bulan tahu sang suami menahan rindu juga menahan semua kecamuk dalam dadanya. Tampak kemudian dari luar, ia terlelap kelelahan.

 

Malam 5: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Ia masih tampak terjaga. Mondar-mandir di depan balkon sembari memegangi handphone warna kuningnya yang baru saja berkedip, mati. Seseorang baru selesai menelponnya, tapi bukan suaminya. Padahal saat itu jam dindingnya sudah menunjuk pada angka sebelas. Itu bukan karena tugas suntingannya yang belum usai. Bukan juga karena suara musik tetangga terlalu keras. Tapi karena esok hari sang suami pulang. Tak banyak yang tahu mengapa. Tapi bulan tahu semua.

Malam 6: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

“Aku kangen sekali, Dek.” Ucapnya di sela nafas yang memburu oleh rindu. Tubuh istrinya yang mungil dipeluknya erat, seakan enggan ia lepaskan. Dahinya sempat berkerut ketika mencium aroma asing di tubuh istrinya, parfum yang berbeda.

“Aduh, Mas, aku juga. Tapi jangan seerat ini memelukku, aku sulit bernafas.” jawab sang istri.

“Oh, maaf,” kata sang suami dan melepaskan pelukannya.

“Bagaimana kalau kau berganti pakaian dahulu dan aku siapkan makan malam?” kata sang istri sembari meraih handphonenya di atas meja.

“Oke!” sang suami setuju.

Sang istri keluar kamar, terpaku di depan pintu yang kemudian ditutupnya. Ia tak menyangka sang suami akan pulang demikian cepat. Telepon genggamnya kembali bergetar. Ini sudah yang kelima kali. Diangkatnya segera dan berkata, “Tunggu sampai ia tertidur, oke?” dan telepon kembali mati.

Malam 6: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Setelah makan malam bertema ‘selamat datang’ usai, sang suami memilih segera tidur. Ia merasa sangat lelah. Sementara sang istri, kembali ke meja kerja yang sengaja disusun mengahadap ke luar kamar, menyunting naskah novel yang harus ia serahkan esok hari.

“Sayang, aku membelikanmu kimono. Aku yakin sangat cocok denganmu.” Ucap sang suami di sela kantuknya.

“Oya? Terima kasih. Besok akan ku coba,” jawab istri dengan mata tetap tertuju pada layar laptop di hadapannya.

“Sayang, apa kau ganti parfum?” tanya sang suami tiba-tiba.

“Hmmm,” jawab istri masih tanpa menoleh.

“Tapi ini seperti parfum laki-laki, Dek? Apa kau salah membeli parfum?” tanyanya lagi. Sang istri terkesiap, terhenti menyunting. Oh, aku lupa berganti pakaian. Batinnya panik. Perlahan ia tolehkan kepalanya ke arah ranjang.

“Oh, emmm, mungkin ini parfum bos, Mas. Tadi sempat satu mobil dengannya karena harus menghadiri acara penghargaan cerpen.” Jawabnya dengan degupan kencang di dadanya.

“Oh, begitu. Lagi pula kamu tidak mungkin kan mengkhianatiku, Dek?”

“Hemm, tentu, Mas.” jawab sang istri.

Kemudian hening, tak ada suara sang suami, pun sang istri. Sang suami sudah tampak tidur, tapi tidak bagi sang istri. Ia masih membuka matanya, bahkan lebih lebar dari biasanya. Dadanya juga masih berdegup kencang. Laptop di hadapannya seperti tak lagi dianggapnya ada. Saat itu, handphone di hadapannya tiba-tiba bergetar. Tampak satu nama di sana, Adam. Sang istri berbegas meraihnya dan membawanya keluar. Tak banyak yang ia bicarakan. Hanya beberapa patah kata dan akhirnya terhenti pada kata Selamat tidur, sayang.

Ketika masuk kamar kembali dan tanpa sengaja melihat keluar jendela yang tak bertirai, tampak bulan masih di sana, bulan yang sama. Tiba-tiba, ia merasa takut, sangat takut. Bulan yang ia pandang saat itu seakan berbalik memandangnya. Bukan pandangan ramah seperti malam-malam sebelumnya. Bulan itu menatapnya sinis, seperti ingin melumatnya, seperti ingin menggigitnya. Bulan itu seakan mengancam membeberkan semuanya yang ia tahu.

Di kamar yang telah gelap dan hanya dihiasi suara jangkrik, ternyata mata sang suami terbuka. Bukan baru saja, tapi sejak tadi, sejak sang istri menyunting novel, terhenyak oleh pertanyaannya, dan keluar menerima telepon untuknya. Ia hanya menghela nafas dalam, lalu kemudian kembali terpejam.

Suatu siang: Teras rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota, 5 bulan kemudian

Ting tong. Bel itu kembali berbunyi, sudah ketiga kalinya dan masih belum ada yang datang membukakan pintu. Lelaki pemencet bel itu pun sudah sempat mengetuk pintu. Tok tok tok. Tapi tetap sama, tak ada jawaban.

“Rita…” panggilnya.

Ting tong. Bel itu kembali berbunyi.

Pintu pun terbuka, tapi dari rumah di sebelahnya, rumah nomor delapan belas. Lelaki pemencet bel itu menengok. Ia melihat seorang wanita paruh baya keluar dari sana, tersenyum, dan bertanya, “Cari siapa ya?”

Lelaki pemencet bel itu mengahmpirinya. ”Saya Adam, teman Rita. Rita… kemana ya?” tanyanya kemudia.

“Oh, bu Rita, istrinya Pak Bian maksudnya?”

Lelaki itu tersenyum, kecut. “Ya,” jawabnya singkat.

“Sejak bercerai dengan Pak Bian, Bu Rita pindah rumah, Mas. Tapi saya juga tidak tahu pindah ke mana.”

Ia hanya ber “O” mendengar penjelasan wanita itu dan bergegas pergi setelah mengucapkan terima kasih. Sudah pasti ia bersedih. Sudah pasti juga ia berasa ingin mati. Rita, mantan pacarnya yang menikah dengan lelaki lain tidak mengijinkannya jatuh cinta untuk yang kedua kali. Cinta setengah mati, katanya.

Kabar terakhir yang ia dengar, Bian menceraikan Rita sehari setelah kepulangannya dari Negeri Sakura. Di luar sepengetahuan Rita, ternyata Bian tahu istrinya berselingkuh. Ternyata Bian tahu bahwa selalu ada laki-laki lain di ranjang dan kamarnya ketika ia tak di sana. Bian juga tahu bahwa parfum yang menempel di tubuh istrinya bukanlah parfum bos yang diceritakannya, tetapi parfum mantan pacar istrinya semasa SMA, Adam. Kabar itu ia peroleh dari seseorang yang sengaja ia sewa untuk mengamati Rita, istrinya. Orang itu menelponnya dan melaporkan semuanya semalam sebelum kepulangannya ke Ibu Kota.

Ketika Rita meminta Adam untuk berpisah saja dan mengakhiri semuanya, Adam tak bisa berbuat apa-apa. Ketika itu, Adam masih bisa memaklumi dan memahaminya. Melepaskan Rita perlahan dan memalingkan semua patah hatinya pada pekerjaannya. Namun, itu tak bisa ditolelir lagi ketika selama hampir lima bulan tak satupun telepon dan pesan yang terjawab. Rita seakan sengaja mengabaikannya.

 

Malam 7: Balkon rumah nomor tujuh belas, Ibu Kota

Bulan tampak terang, seterang tujuh bulan yang lalu, saat di balkon yang kini tampak gelap berdiri dua sejoli, Rita dan Bian. Malam itu bulan tampak sumringah. Bulan lega bahwa rahasia yang sempat ia simpan akhirnya terungkap. Namun, memang akan lebih baik jika bulan bisa ngomong. Karena jika bisa, sang suami tidak akan pernah ke Negeri Sakura, sang istri akan tetap setiap pada satu pria, dan balkon yang kini tampak gelap akan tetap terang seperti biasa. Juga karena jika bisa, Adam tak akan kebingungan mencari Rita ke mana-mana. Rita ada di sana, di rumahnya, rumah nomor tujuh belas; tergantung, mati. Setelah memutuskan untuk pindah, ternyata dua malam kemudian Rita kembali ke rumahnya, memasang seutas tali pada lehernya dan membiarkan racun tikus menggerogoti nyawanya. Handphone warna kuning di sebelahnya sudah tak lagi berdering. Ikut mati bersama pemiliknya.

Sayang, hanya bulan yang tahu itu. Hanya bulan yang punya rahasia itu. Andai saja bulan bisa ngomong.

 

 

Catatan:

1Furisode: kimono formal untuk wanita yang belum menikah.

2Tomesode: kimono formal yang digunakan untuk wanita yang sudah menikah.

Diterbitkan di: on Juli 11, 2011 at 3:12 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

cinta di kolong meja

Jangan sangka kalau kolong meja hanya bisa dijadikan tempat bertemunya kaki beserta alasnya; sepatu, sandal jepit, bahkan sekedar debu. Kolong meja ternyata juga bisa dijadikan tempat bertemunya cinta. Tidak percaya? Aku pernah sekali mengalaminya. Yaa, sekitar setahun setengah yang lalu, saat tanpa sengaja ku jatuhkan penaku di sana, kolong meja salah satu meja sebuah Coffe Shop. Dia, yang kebetulan lewat, memungutnya dari sana saat tanganku tak sempat meraih pena itu. Mata kami pun bertemu. Sungguh, aku terpana, bahkan belahan dada yang bagi sebagian lelaki lebih indah dari apapun, kalah dengan keindahan matanya. Aku segera berdiri dan mengambil penaku kembali dari tangannya. Dia tersenyum kemudian bergegas melayani tamu lain. Lina, itu namanya, tertera jelas di papan nama yang tertempel di atas saku kirinya. Nama yang sama dengan yang disebutkan seorang manager Coffe Shop di hadapanku. Ia pelayan terbaik kami, ujarnya kemudian. Hari itu, aku resmi menemukan cinta di kolong meja. Segera kusudahi pertemuan yang memang sudah berakhir. Berharap dapat cepat pulang dan menyelesaikan laporan untuk diserahkan esok hari pada atasan yang tidak mengenal kata terlambat. Kerjasama ini akan lebih menyenangkan, bisikku dalam hati setelah sebelumnya sempat melemparkan senyum pada pelayan pria di ambang pintu keluar.

***

Sepekan setelahnya, aku masih mengingat mata itu. Sudah ku katakan, mata itu terlalu indah, hingga aku tak bisa benar-benar terlelap sampai aku bisa menemukannya lagi, meski itu terjadi di antara betis meja yang tak seksi. Sepulang dari kantor, aku sengaja mampir ke Coffe Shop yang sama, di meja yang sama, dengan berharap menemukannya di sana. Ku pesan secangkir Vanilla Latte hangat. Masih berharap juga bahwa yang mengantarkannya adalah pelayan terbaik bernama Lina. Tapi, pucuk dicinta, ulam pun tak tiba, yang muncul justru pelayan pria bertubuh atletis yang membuatku iri ketika melirik perutku yang mulai membuncit. Jujur, aku kecewa. Lebih kecewa lagi ketika tiba-tiba seorang gadis kecil berlari tanpa permisi di hadapan pelayan bertubuh atletis itu dan membuatnya limbung hingga menumpahkan secangkir Vanilla Latte pesananku di atas pundakku. Alhasil, sebelah dari lengan bajuku basah. Pelayan bertubuh atletis, yang ternyata memiliki nama yang sama denganku—Dimas—, terus menerus meminta maaf sampai akhirnya manager Coffe Shop datang, memarahinya dan mengancam akan memecatnya. Anak kecil yang sempat menjadi ‘tersangka’ di mataku bersembunyi di belakang tubuh ibunya, takut kalau-kalau ia juga turut dipersalahkan dan dipecat menjadi pelanggan setia Coffe Shop. Setelah mengatakan bahwa aku baik-baik saja pada manager dan pelayan Coffe Shop tadi, juga semua pelanggan di sana, aku bergegas menuju toilet. Tidak tahan lagi dengan sensasi lengket yang menempel di pundak serta lengan kananku. Segera ku basuh dengan air yang mengalir dari wastafel dan mengeringkannya dengan handuk kecil yang tersedia di sana. Sedikit lebih baik, batinku, kemudian bergegas keluar. Hari yang sungguh bukan keberuntunganku; tidak bertemu Lina dan tertumpahi minuman sendiri, belum lagi pelayan yang sempat membuatku rendah diri. Ku hela nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. Tidak sabar untuk segera pulang dan melegakan semuanya di bawah kucuran air hangat kegemaranku. Kepalaku pun sudah penuh dengan kepenatan akibat tuntutan bos yang –menurutku— keterlaluan. Ketika berjalan melewati ruang gudang dengan pintu setengah terbuka, aku sempat menoleh ke sana. Sepersekian detik, aku belum juga menyadari apa yang sempat ku lihat; terus berjalan tanpa perduli. Namun, tunggu, bisikku dalam hati dan berbalik ke tempat semula, depan ruang gudang. Saat itulah aku menyadari apa yang ku lihat, memandanginya nanar dengan mulut sedikit ternganga, kemudian bergegas pergi tanpa sempat berfikir harus bagaimana. Aku melihatnya, Lina, di tempat yang sama ketika kami pertama kali bertemu, ketika pertama kali mata kami bertemu. Apalagi kalau bukan kolong meja. Tapi kali ini tentu ia tidak tengah mengambilkan sebuah pena yang jatuh milik seorang pelanggan. Tapi kali ini ia tengah bersama seorang lelaki; bercumbu mesra seakan kolong meja itu menjadi surga terindah keduanya. Sempat ku lihat mata itu memandangiku, mata yang pernah ku bilang sangat indah; mengerling padaku sejenak dan dengan tanpa berdosa mengerling kembali pada lelaki di hadapannya, melanjutkan kemesraan cumbuannya seakan aku tak pernah di sana. Hari itu, aku resmi menemukan cintaku rapuh di kolong meja.

Djogja, 11 Juli 2011

Diterbitkan di: on Juli 11, 2011 at 2:54 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ia warna merah bagiku

Aku mengenalnya tanpa sengaja di pertengahan tahun lalu. Kami bertemu dalam sebuah organisasi kampus yang melibatkan banyak mahasiswa dari berbagai jurusan. Tak banyak yang ku tahu tentangnya selain nama dan nomor telepon. Itu pun tidak ku peroleh dari hasil perkenalan langsung dengannya. Aku melihatnya pada daftar anggota baru yang tertempel di dinding kantor sekertariat. Radit Rahmansyah. Nama yang sangat ku sukai. Nama yang terkadang ku sebutkan tanpa alasan di depan cermin ketika aku berdandan. Juga nama yang sering kali tertulis dalam buku catatan kecil yang ku miliki. Ia lah yang menjadi semangatku untuk terus datang sebagai anggota organisasi tersebut. Ia juga yang menjadi alasanku untuk tetap di tempat ketika pertemuan telah usai hanya menunggu ia pulang terlebih dahulu. Melambaikan tangan untuk pertemuan selanjutnya meski ia tak tahu benar bahwa aku di sana untuk mengantarkan kepulangannya.

 

Pernah satu kali ibuku bertanya, mengapa aku selalu datang tepat waktu ketika organisasi itu mengadakan pertemuan rutin. Aku hanya tersenyum dan ibuku pun paham bahwa anak perempuannya tengah bahagia, tengah jatuh cinta. Beliau hanya berpesan, “Jangan terlalu suka akan satu hal, jika ia pergi, kau yang akan tersakiti, nduk.” Saat itu aku tak terlalu paham apa yang sebenarnya yang hendak disampaikan oleh ibu. Aku hanya mengangguk dan mencium pipi kanannya sebelum akhirnya melarikan sepeda motorku.

 

Sore itu, ia tampak sangat bahagia. Mengenakan kemeja berwarna merah dan celana jeans hitam dengan sepatu kets warna putih yang sangat serasi. Ia tampan sekali. Sangat sumringah jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Kalau tidak salah ingat, hari itu tanggal 22 Agustus 2010.

 

Ia menyapa semua orang dalam pertemuan itu, tak terkecuali kau. Itu kali pertama ia menyadari bahwa aku ada di sana. Dadaku yang berdegup kencang ku sembunyikan sebaik-baiknya agar tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya ku rasakan. Juga ketika tanpa sengaja aku menangkapnya basah tengah menatapku, menatap mataku. Sepersekian detik kami masih bertatapan hingga akhirnya aku menyudahinya, menundukkan mataku ke lantai dan kembali berkonsentrasi pada hal yang tengah dibicarakan. Dadaku yang sempat berloncatan ketika ia menyapaku saat itu begitu tak terkendali. Entah apa arti dari tatapan tajamnya. Janga-jangan ia tahu kalau aku menyukainya. Jangan-jangan ia tahu aku selalu memperhatikannya. Jangan-jangan. Jangan-jangan…semua dugaan itu timbul dengan cepat bergantian tiada henti. Terlalu berlebihan memang. Tetapi itulah kenyataan yang tengah ku hadapi.

 

Suatu sore tanpa sengaja ku temukan akun twitternya, @radit.ra, terpampang begitu jelas pada RT seorang teman. Tanpa menunggu waktu lama, aku klik namanya dan muncullah satu halaman akun pribadi dengan foto dan nama lengkap di sampingnya, Radit Rahmansyah. Aku baca satu persatu time line yang ada, menatapnya seksama tiap ungkapan hati yang ia tuliskan. Kadang tersenyum sendiri ketika membacanya. Hingga pada akhirnya aku sampai pada satu nama, @sinta.ra , dengan sebaris kalimat di sampingnya berbunyi happy anniversary  sayang yang tertulis sekitar 5 hari yang lalu. Ketika itu, aku segera menyadari bahwa apa ku lakukan salah, juga ketika akhirnya aku tahu bahwa lima hari yang lalu adalah hari terindah baginya, hari saat ia tampak begitu bahagia, hari yang tertanggal 22 Agustus 2010.

 

Sore itu, akhirnya aku paham yang dimaksudkan ibuku dalam nasehatnya. Aku memang menangis, menyadari bahwa ia tidak lagi sendiri. Ia telah miliki orang lain. Tapi, satu hal lain yang aku sadari, bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan hal yang sia-sia. Bahwa Tuhan tidak sengaja mempertemukan kami untuk mebuatku menangis. Bahwa Tuhan telah menitipkan kebahagiaan melalui kehadirannya meski itu tidak lama.

 

Sampai akhirnya aku keluar dari organisasi itu, aku masih menyukainya, masih menyayanginya. Sampai saat ini pun, aku masih hafal bagaimana ia berjalan, bagaimana ia tersenyum, dan bagaimana suara tawanya terdengar. Aku juga masih ingat parfum kesukaannya. Sangat khas jika tanpa sengaja aku menciumnya dari orang lain yang kebetulan bertemu di jalan atau di tempat-tempat umum laninnya. Aku hanya tersenyum jika mengingat semuanya. Kabar terakhir yang ku dengar, ia tak lagi dengan gadis tersayangnya, entah apa alasannya aku tak mau tahu. Yang jelas, aku berterima kasih pada Tuhan karena pernah menghadirkannya untukku, menghandirkannya sebagai seseorang yang memberikan warna baru dalam hidupku, warna merah di sela warna putih abu-abu.

 

17 Juni 2011

for @radit.ra, my invisible man

 

 

Diterbitkan di: on Juni 17, 2011 at 6:37 am  Komentar (1)  

kepada hujan

kepada hujan, kutitipkan sapaku untuknya. dan kepada hujan pula ku gantungkan penantianku atas balas sapaku.. menanti di tepi jendela kamarku yang selalu terbuka

tak banyak yang ingin ku tahu…

aku hanya ingin tahu dan memastikan

bahwa ia baik-baik saja di sana..

dulu, aku tak paham mengapa gerimis begitu setia menanti hujan datang

namun, kini ku tahu, bahwa ia bukan menanti hal yang sia,

tapi, ia tengah menunggu sebuah cinta

meski ia tahu itu tak sejenak

ia tetap setia menanti hujan datang untuknya…

pun diriku,

yang meski tahu ia tak datang..

jendela kamarku tetap akan ku buka

siapa tahu suatu hari nanti

ia kembali dengan sepotong hati

dengan senyum dan bahagia yang ia bingkiskan untukku….

Diterbitkan di: on November 19, 2008 at 2:20 am  Komentar (2)  

entah…

entah,

bagaimana jika suatu hari nanti

hujan sampaikan padaku

bahwa sapanya bukanlah untukku

…. :’(

Diterbitkan di: on November 19, 2008 at 2:03 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

takutku 2

takut itu kembali hadir

begitu dalam….

entah karena apa…

namun ia begitu kuat menikam

mungkin memang tak baik terlalu harapkan angin datang malam ini

sementara, jendela kamarku masih kubiakan terus terbuka.

tak banyak yang ku ingin

hanya sebuah kabar baik tentang nya saja…

tak lebih

karena ku tak yakin

ku kan dapatkan lebih dari itu

…..

Diterbitkan di: on Oktober 23, 2008 at 5:22 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

takut ku

mungkin ku kan butuhkan selimut ketika ku takut dingin munusuk tubuhku

mungkin ku kan butuhkan pintu ketika ku takut pencuri masuk rumahku dan

mungkin ku kan butuhkan doa ketika ku takut akan hantu yang kan menggangguku…

namun…

aku tak tahu apa yang seharusnya aku butuhkan

ketika tibatiba dia hadir dan ku takut tibatiba dia pergi

…..

Diterbitkan di: on Oktober 23, 2008 at 5:12 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

untuk angin yang berhembus

kapan kau kembali hadir,

tuk sampaikan kabarnya pada ku?

ku letih nantikanmu di tepi jendela yang terus terbuka.

hingga dingin merasuk ke tulang, ku masih menunggu mu datang…

sekedar untuk  tahu, bahwa ia baik-baik saja

di sana

Diterbitkan di: on Oktober 22, 2008 at 9:30 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

untuk hujan

untuk hujan

asal kau tahu…

cinta itu ada untuk bahagia…

bukan untuk memaksa, merubah, apalagi membenci hanya utnuk mencinta…

cinta itu ada untuk dirasa…

kalau saja kau tahu itu, maka daundaun kering itu tak kan merasa sepi…

….

Diterbitkan di: on Oktober 22, 2008 at 8:59 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

seyum kini

Senyum Kini

mungkin hanya senyum yang kan ada ketika hujan hadir dan sampaikan sapanya untukku. Hh…sebenarnya letih tuk terus nantikannya, nantikan sapanya, senyumnya, dan kemudian hadirnya…

mungkin bagi orang lain, sapanya tak berati apapun.

namun bagiku semuanya -sapa, senyum, dan hadirnya- mengandung makna yang indah…

:)

Diterbitkan di: on Oktober 22, 2008 at 8:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.