maaf untuk ibu

MAAF UNTUK IBU

“Pokoknya aku mau uang!” bentak Deni pada ibunya siang itu.

Dengan sabar, Sang Ibu mengelus kepala anak laki-laki semata wayangnya tanpa rasa marah sedikitpun. Dan dengan kasar, Deni menepisnya. Ibunya hanya tersenyum.

“Iya, Ibu tahu, tapi sekarang Ibu tidak punya uang Nak. Gajiannya kan baru seminggu lagi. Malu dong sama Pak Kardi dan Bu Kardi kalau minta gaji lebih awal lagi,” jawab ibunya dengan lembut.

“Alah…bilang aja Ibu gak sayang lagi sama aku. Ibu sebenarnya punya uang kan, Cuma Ibu gak mau aja ngasih ke aku, iya kan?!” katanya lagi dengan bentakan yang lebih keras.

“Masya Allah, gak Nak, Ibu gak bohong. Ibu memang tidak punya uang. Untuk sarapan tadi pagi saja, Ibu ‘ngutang‘ lagi di warung Pak Sodiq. Kalau Ibu punya uang pasti sudah….”

“Alah…udah lah, kebanyakan alasan!” potongnya.

Dan

Brakkk!!! Deni pun pergi dengan membanting pintu begitu keras, hingga Sang Ibu terkejut. Setelah itu, terdengar suara motor menderu kencang dan menjauh. Sang Ibu hanya terdiam, kemudian menangis.

“Ya Allah, maafkan anak ku….” pintanya.

_maafuntukibu_

Dengan dada sesak penuh amarah dan kekesalan, Deni mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Entah motor siapa lagi yang ia pinjam dengan paksa. Namun, yang jelas, ia tak pernah mau teman-temannya tahu bahwa ia adalah anak seorang tukang cuci di sebuah keluarga kaya. Dengan segala asesoris dan baju mahal, teman-temannya selalu menganggap bahwa ia adalah anak seorang konglomerat yang selalu gonta-ganti motor bermerek.

“Kalau aku boleh memilih, aku tidak mau dilahirkan dari rahim seorang ibu miskin seperti kamu!!!”

Bahkan perkataan itu juga pernah keluar dari mulut Deni pada ibunya. Saat itu, ibunya sangat terkejut dan jatuh sakit. Beliau tidak pernah menduga bahwa anak kesayangannya akan berkata demikian.

Dadanya masih sesak penuh amarah, motornya pun masih menderu dengan kecepatan tinggi, saat sebuah truk pengangkut barang dari arah yang berlawanan menabraknya di sebuah tikungan tajam. Setelah menabrak Deni dan motornya, truk itu menabrak pagar pembatas jalan dan berhenti. Sementara Deni, terpelanting beberapa meter berasama motor ‘pinjaman paksanya’.

_maafuntukibu_

Perlahan, Deni membuka matanya. Semua putih!

“Dimana aku?” tanyanya.

Tak seorang pun menjawab. Sepi. Dan ia pun sendiri dalam ruangan itu. Ruang itu seperti Rumah Sakit, namun, tak seorangpun menjaganya.

“Ibu….” panggilnya kemudian. Ibunya pun tak ada di sana.

Ia pun bergegas beranjak dari ranjangnya. Setelah berdiri, ia melihat sekelilingnya. Namun…

“Hei, mengapa aku masih di sana, aku kan….” Katanya sembari memandang tubuh yang tengah terbaring di ranjang yang ia tempati tadi. Tubuh itu penuh luka dan selang. Tubuh itu sangat ia kenal. Ya,sangat kenal, karena tubuh itu adalah tubuh Deni.

“Kalau aku baru saja bangun dari ranjang itu, lalu siapa yang masih terbaring di sana? Apa aku sudah mati?” tanyanya dengan nada penuh sesal.

Pintu kamar itu terbuka, seorang dokter masuk bersama….

“Ibu…!!!” panggil Deni. Namun, Sang Ibu seperti tidak mendengarnya. Beliau malah menangis dan memeluk tubuh Deni yang terbujur lemas diatas ranjang, dengan semua luka dan selang yang memenuhi hampir semua bagian tubuhnya.

“Bu, aku disini. Jawab aku Bu,” katanya sambil terus berusaha memanggil ibunya. Namun, sama saja, ibunya tidak dapat mendengarnya.

“Bangun Nak. Ibu di sini, di sisi kamu. Bangun Nak, Ibu mohon. Ibu janji, nanti kalau kamu bangun, Ibu akan beri uang yang kamu minta, berapapun itu, Ibu akan kasih. Ibu janji,” kata Sang Ibu dengan penuh isak tangis.

Mendengar itu, Deni pun bersimpuh dan menangis, menyesali semua perbuatannya.

“Maafin Deni Bu, maafin Deni…” katanya penuh sesal.

“Terlambat!” sebuah suara mengagetkan Deni. Ia pun mencari sumber suara itu. Seorang kakek berjubah putih mendatanginya. Entah dari mana asalnya.

“Si, siapa kamu?” tanya Deni dengan suara gemetar, ketakutan.

“Kamu tak perlu tahu siapa kau, yang jelas kamu sudah terlambat mengucapkan maaf itu untuk ibumu, ibumu takkan memdengar. Jadi percuma saja kalau kamu ucapkan maaf itu sekarang, “ katanya sembarai menatap Deni dengan kesal.

“Maksud kamu apa? Apa aku tidak bisa beertemu dengan ibu ku lagi? Apa aku sudah mati?” tanyanya dengan rasa takut.

Mendengar itu, kakek tua itu tersenyum.

“Sudah mati atau masih hidup, itu bukan urusan ku. Yang jelas, kamu sudah terlambat mengucapkan kata maaf itu. Kenapa tidak dari dulu kamu ucapkan kata-kata itu, ketika ibumu jatuh sakit akibat perkataan mu yang menyakiti hatinya? Mengapa tidak dari dulu, ketika ibumu menangis karena merasa tersakiti oleh kedurhakaan mu?”

Deni hanya terdiam. Ia baru menyadari bahwa perlakuannya pada ibunya selama ini, telah menyakiti Beliau.

“Kau ingat, ketika kau perlakukan ibumu dengan kasar, apa beliau membalasnya dengan kasar juga? Apa kau tahu, ketika kau bentak ibumu, beliau membalasnya dengan senyuman dan belaian sayang?”

Deni tetap dian, namun air matanya bertambah deras mengalir membasahi pipinya. Hatinya luluh, bersama semua sesal yang menyeruak.

“Sekarang lihatlah, betapa beliau begitu menyayangimu. Betapa ia merasa begitu bersalah karena tidak menuruti permintaanmu. Apa kau sadar itu?”

“Apa aku masih diberi kesempatan untuk meminta maaf pada nya. Ku mohon,” ucapnya, masih dengan isak tangis.

“Sebenarnya bukan hak ku untuk memberikan kesempatan ini, namun, memang itu tujuanku kemari. Membawa pesan dari Allah untuk memberimu satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua perbuatanmu. Tapi kau harus berjanji untuk mempergunakannya dengan sebaik-baiknya,” paparnya.

“Ya, aku janji,” kata Deni dengan anggukan pasti.

_maafuntukbunda_

“Nak, kamu bangun. Dokter, anak saya sudah sadar,” teriak Sang Ibu dengan penuh bahagia.

Dokterpun masuk dan memeriksa Deni.

“Selamat Bu, anak Anda kembali,” kata Dokter dan begegas keluar.

“Bu.”

“Ya, Nak, ada apa?”

“Maafin Deni ya. Selama ini Deni bandel, selalu buat Ibu marah, sedih bahkan Deni pernah buat ibu sakit. Maafin Deni ya. Deni janji, Deni akan patuh sama Ibu, Deni janji Bu,” papar Deni dengan berlinang air mata.

Sang ibu hanya terdiam, tak dapat berkata apa-apa. Ia bahagia, anak kesayangannya telah kembali. Kembali dari komanya selama 2 hari dan kembali menjadi kebaggaannya. Dengan air mata yang terus mengalir, ia mengecup kening anak laki-lakinya itu.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena kamu tidak punya salah apa-apa sama Ibu. Sekarang yang penting, kamu cepat sembuh dan pulang kerumah ya,” ucap Sang Ibu dengan rasa haru.

Dan mereka pun berpelukan . Hati Deni terasa bahagia. Rasa bahagia yang sudah sejak lama tak pernah ia rasakan dan rasa bahagia yang selama ini-sebenarnya- sangat ia rindukan, yaitu rasa bahagia bersama seorang ibu yang begitu mengasihi dan menyayanginya.

_maafuntukibu_

5 Juni 2008

Diterbitkan di:  on Juli 18, 2008 at 1:19 am Tinggalkan sebuah Komentar

tangis atau bahagia

Tangis, atau Bahagia?

Entah apa yang seharusnya ada

ketika ku lihat senyum itu begitu indah

menghiasi bibir nya

….

Air mata

atau

tawa?

….

Entah,

Namun, yang pasti

ada yang merintih menahan perih

ketika ia tersenyum

tertawa,

dan

kemudian bahagia

…..

Diterbitkan di:  on at 1:08 am Komentar (1)