Aku mengenalnya tanpa sengaja di pertengahan tahun lalu. Kami bertemu dalam sebuah organisasi kampus yang melibatkan banyak mahasiswa dari berbagai jurusan. Tak banyak yang ku tahu tentangnya selain nama dan nomor telepon. Itu pun tidak ku peroleh dari hasil perkenalan langsung dengannya. Aku melihatnya pada daftar anggota baru yang tertempel di dinding kantor sekertariat. Radit Rahmansyah. Nama yang sangat ku sukai. Nama yang terkadang ku sebutkan tanpa alasan di depan cermin ketika aku berdandan. Juga nama yang sering kali tertulis dalam buku catatan kecil yang ku miliki. Ia lah yang menjadi semangatku untuk terus datang sebagai anggota organisasi tersebut. Ia juga yang menjadi alasanku untuk tetap di tempat ketika pertemuan telah usai hanya menunggu ia pulang terlebih dahulu. Melambaikan tangan untuk pertemuan selanjutnya meski ia tak tahu benar bahwa aku di sana untuk mengantarkan kepulangannya.
Pernah satu kali ibuku bertanya, mengapa aku selalu datang tepat waktu ketika organisasi itu mengadakan pertemuan rutin. Aku hanya tersenyum dan ibuku pun paham bahwa anak perempuannya tengah bahagia, tengah jatuh cinta. Beliau hanya berpesan, “Jangan terlalu suka akan satu hal, jika ia pergi, kau yang akan tersakiti, nduk.” Saat itu aku tak terlalu paham apa yang sebenarnya yang hendak disampaikan oleh ibu. Aku hanya mengangguk dan mencium pipi kanannya sebelum akhirnya melarikan sepeda motorku.
Sore itu, ia tampak sangat bahagia. Mengenakan kemeja berwarna merah dan celana jeans hitam dengan sepatu kets warna putih yang sangat serasi. Ia tampan sekali. Sangat sumringah jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Kalau tidak salah ingat, hari itu tanggal 22 Agustus 2010.
Ia menyapa semua orang dalam pertemuan itu, tak terkecuali kau. Itu kali pertama ia menyadari bahwa aku ada di sana. Dadaku yang berdegup kencang ku sembunyikan sebaik-baiknya agar tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya ku rasakan. Juga ketika tanpa sengaja aku menangkapnya basah tengah menatapku, menatap mataku. Sepersekian detik kami masih bertatapan hingga akhirnya aku menyudahinya, menundukkan mataku ke lantai dan kembali berkonsentrasi pada hal yang tengah dibicarakan. Dadaku yang sempat berloncatan ketika ia menyapaku saat itu begitu tak terkendali. Entah apa arti dari tatapan tajamnya. Janga-jangan ia tahu kalau aku menyukainya. Jangan-jangan ia tahu aku selalu memperhatikannya. Jangan-jangan. Jangan-jangan…semua dugaan itu timbul dengan cepat bergantian tiada henti. Terlalu berlebihan memang. Tetapi itulah kenyataan yang tengah ku hadapi.
Suatu sore tanpa sengaja ku temukan akun twitternya, @radit.ra, terpampang begitu jelas pada RT seorang teman. Tanpa menunggu waktu lama, aku klik namanya dan muncullah satu halaman akun pribadi dengan foto dan nama lengkap di sampingnya, Radit Rahmansyah. Aku baca satu persatu time line yang ada, menatapnya seksama tiap ungkapan hati yang ia tuliskan. Kadang tersenyum sendiri ketika membacanya. Hingga pada akhirnya aku sampai pada satu nama, @sinta.ra , dengan sebaris kalimat di sampingnya berbunyi happy anniversary sayang yang tertulis sekitar 5 hari yang lalu. Ketika itu, aku segera menyadari bahwa apa ku lakukan salah, juga ketika akhirnya aku tahu bahwa lima hari yang lalu adalah hari terindah baginya, hari saat ia tampak begitu bahagia, hari yang tertanggal 22 Agustus 2010.
Sore itu, akhirnya aku paham yang dimaksudkan ibuku dalam nasehatnya. Aku memang menangis, menyadari bahwa ia tidak lagi sendiri. Ia telah miliki orang lain. Tapi, satu hal lain yang aku sadari, bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan hal yang sia-sia. Bahwa Tuhan tidak sengaja mempertemukan kami untuk mebuatku menangis. Bahwa Tuhan telah menitipkan kebahagiaan melalui kehadirannya meski itu tidak lama.
Sampai akhirnya aku keluar dari organisasi itu, aku masih menyukainya, masih menyayanginya. Sampai saat ini pun, aku masih hafal bagaimana ia berjalan, bagaimana ia tersenyum, dan bagaimana suara tawanya terdengar. Aku juga masih ingat parfum kesukaannya. Sangat khas jika tanpa sengaja aku menciumnya dari orang lain yang kebetulan bertemu di jalan atau di tempat-tempat umum laninnya. Aku hanya tersenyum jika mengingat semuanya. Kabar terakhir yang ku dengar, ia tak lagi dengan gadis tersayangnya, entah apa alasannya aku tak mau tahu. Yang jelas, aku berterima kasih pada Tuhan karena pernah menghadirkannya untukku, menghandirkannya sebagai seseorang yang memberikan warna baru dalam hidupku, warna merah di sela warna putih abu-abu.
17 Juni 2011
for @radit.ra, my invisible man
wiiih…keren, based on true story ? hehehe