Jangan sangka kalau kolong meja hanya bisa dijadikan tempat bertemunya kaki beserta alasnya; sepatu, sandal jepit, bahkan sekedar debu. Kolong meja ternyata juga bisa dijadikan tempat bertemunya cinta. Tidak percaya? Aku pernah sekali mengalaminya. Yaa, sekitar setahun setengah yang lalu, saat tanpa sengaja ku jatuhkan penaku di sana, kolong meja salah satu meja sebuah Coffe Shop. Dia, yang kebetulan lewat, memungutnya dari sana saat tanganku tak sempat meraih pena itu. Mata kami pun bertemu. Sungguh, aku terpana, bahkan belahan dada yang bagi sebagian lelaki lebih indah dari apapun, kalah dengan keindahan matanya. Aku segera berdiri dan mengambil penaku kembali dari tangannya. Dia tersenyum kemudian bergegas melayani tamu lain. Lina, itu namanya, tertera jelas di papan nama yang tertempel di atas saku kirinya. Nama yang sama dengan yang disebutkan seorang manager Coffe Shop di hadapanku. Ia pelayan terbaik kami, ujarnya kemudian. Hari itu, aku resmi menemukan cinta di kolong meja. Segera kusudahi pertemuan yang memang sudah berakhir. Berharap dapat cepat pulang dan menyelesaikan laporan untuk diserahkan esok hari pada atasan yang tidak mengenal kata terlambat. Kerjasama ini akan lebih menyenangkan, bisikku dalam hati setelah sebelumnya sempat melemparkan senyum pada pelayan pria di ambang pintu keluar.
***
Sepekan setelahnya, aku masih mengingat mata itu. Sudah ku katakan, mata itu terlalu indah, hingga aku tak bisa benar-benar terlelap sampai aku bisa menemukannya lagi, meski itu terjadi di antara betis meja yang tak seksi. Sepulang dari kantor, aku sengaja mampir ke Coffe Shop yang sama, di meja yang sama, dengan berharap menemukannya di sana. Ku pesan secangkir Vanilla Latte hangat. Masih berharap juga bahwa yang mengantarkannya adalah pelayan terbaik bernama Lina. Tapi, pucuk dicinta, ulam pun tak tiba, yang muncul justru pelayan pria bertubuh atletis yang membuatku iri ketika melirik perutku yang mulai membuncit. Jujur, aku kecewa. Lebih kecewa lagi ketika tiba-tiba seorang gadis kecil berlari tanpa permisi di hadapan pelayan bertubuh atletis itu dan membuatnya limbung hingga menumpahkan secangkir Vanilla Latte pesananku di atas pundakku. Alhasil, sebelah dari lengan bajuku basah. Pelayan bertubuh atletis, yang ternyata memiliki nama yang sama denganku—Dimas—, terus menerus meminta maaf sampai akhirnya manager Coffe Shop datang, memarahinya dan mengancam akan memecatnya. Anak kecil yang sempat menjadi ‘tersangka’ di mataku bersembunyi di belakang tubuh ibunya, takut kalau-kalau ia juga turut dipersalahkan dan dipecat menjadi pelanggan setia Coffe Shop. Setelah mengatakan bahwa aku baik-baik saja pada manager dan pelayan Coffe Shop tadi, juga semua pelanggan di sana, aku bergegas menuju toilet. Tidak tahan lagi dengan sensasi lengket yang menempel di pundak serta lengan kananku. Segera ku basuh dengan air yang mengalir dari wastafel dan mengeringkannya dengan handuk kecil yang tersedia di sana. Sedikit lebih baik, batinku, kemudian bergegas keluar. Hari yang sungguh bukan keberuntunganku; tidak bertemu Lina dan tertumpahi minuman sendiri, belum lagi pelayan yang sempat membuatku rendah diri. Ku hela nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. Tidak sabar untuk segera pulang dan melegakan semuanya di bawah kucuran air hangat kegemaranku. Kepalaku pun sudah penuh dengan kepenatan akibat tuntutan bos yang –menurutku— keterlaluan. Ketika berjalan melewati ruang gudang dengan pintu setengah terbuka, aku sempat menoleh ke sana. Sepersekian detik, aku belum juga menyadari apa yang sempat ku lihat; terus berjalan tanpa perduli. Namun, tunggu, bisikku dalam hati dan berbalik ke tempat semula, depan ruang gudang. Saat itulah aku menyadari apa yang ku lihat, memandanginya nanar dengan mulut sedikit ternganga, kemudian bergegas pergi tanpa sempat berfikir harus bagaimana. Aku melihatnya, Lina, di tempat yang sama ketika kami pertama kali bertemu, ketika pertama kali mata kami bertemu. Apalagi kalau bukan kolong meja. Tapi kali ini tentu ia tidak tengah mengambilkan sebuah pena yang jatuh milik seorang pelanggan. Tapi kali ini ia tengah bersama seorang lelaki; bercumbu mesra seakan kolong meja itu menjadi surga terindah keduanya. Sempat ku lihat mata itu memandangiku, mata yang pernah ku bilang sangat indah; mengerling padaku sejenak dan dengan tanpa berdosa mengerling kembali pada lelaki di hadapannya, melanjutkan kemesraan cumbuannya seakan aku tak pernah di sana. Hari itu, aku resmi menemukan cintaku rapuh di kolong meja.
Djogja, 11 Juli 2011